STRATEGI MENGINGAT BAHAN BICARA

Mengingat Bahan Bicara
S. Lenny Laskowski Ljlseminars

Ada banyak cara untuk bisa mengingat bahan bicara. Setidaknya, empat cara berikut ini adalah cara yang paling umum dilakukan oleh banyak pembicara publik. Anda pilih sendiri mau yang mana, akan tetapi ingatlah bahwa beberapa cara ternyata merupakan cara yang salah.

Anda bisa mengingat bahan bicara dengan:
1. Menghafal;
2. Membaca sepenuhnya;
3. Menggunakan catatan;
4. menggunakan alat bantu visual.

1. MENGHAFAL

Inilah cara yang paling buruk menurut para pakar public speaking. Mengapa? Karena dengan menghafal, Anda akan disibukkan oleh berabgai kata atau kalimat, dan bukan ide yang ada di belakangnya. Padahal, apa yang penting adalah idenya, dan bukan kata atau kalimatnya. Cara ini menjadi cara terburuk untuk mengingat bahan bicara, karena Anda akan:

– Kehilangan ide di belakang setiap kata dan kalimat;
– Kehilangan infleksi suara (penekanan kata) yang normal dan alamiah;
– Menciptakan mental block di mana audience Anda akan melihat orang yang sedang mengingat-ingat sesuatu, bukan orang yang sedang berbicara kepada mereka;
– Lupa. Ini PASTI terjadi, persoalannya hanyalah KAPAN!

2. MEMBACA TOTAL

Apa yang paling dibenci oleh audience Anda? Seorang pembicara yang membaca bicaranya! Mereka akan berkata, “Kalo ngebaca sih, Gua juga bisa!”

Ini juga merupakan cara yang buruk untuk mengingat bahan bicara karena Anda akan:

– Kehilangan ide di belakang setiap kata dan kalimat;
– Kehilangan infleksi suara yang normal dan alamiah;
– Kehilangan ‘pause’ yang merupakan alat powerful dalam berbicara;
– Kehilangan kontak mata sebagai elemen penting dalam berbicara;
– Kehilangan ‘bicara’ itu sendiri, karena biasanya bahasa tulisan berbeda dari bahasa lisan.
Anda akan terjebak dalam model bahasa yang ‘tinggi’, rumit atau terlalu teknis. Efeknya, Anda akan kesulitan membacanya. Dan lebih parah lagi, audience Anda akan jauh lebih sulit mendengarkanya.

Apa yang Anda ciptakan, hanyalah sedikit pergerakan, sedikit energi dan sedikit daya tarik. Anda mungkin terjebak dalam pola dan kebiasaan ini, karena tidak berani mencoba cara lain yang lebih baik. Maka tipsnya; paksakan saja!

Catatan: Memang ada saatnya Anda harus membaca. Misalnya untuk
kutipan ayat hukum atau kebijakan yang resmi sifatnya. Atau, jika
batasan waktu Anda memang sangat ketat.

Jika memang harus membaca, ikuti tips ini:
– Jaga infleksi suara agar tetap alamiah dan normal;
– Jaga ‘pause’ agar alamiah dan normal;
– Jaga agar suara Anda tetap sama dengan berbicara tanpa membaca.
– Jaga agar gesture atau bahasa tubuh Anda tetap alamiah dan normal;
– Jaga agar kontak mata Anda tetap efektif dan efisien;
– Latih dengan mengucapkannya keras-keras. Ini akan mendekatkan Anda kepada gaya bicara Anda yang alamiah;
– Saat menuliskannya, tulislah sejalan dengan bagaimana Anda akan mengucapkannya;
– Tulislah dengan dobel spasi atau lebih. Sisipkan petunjuk bahasa tubuh di bawah setiap baris;
– Jangan tulis dalam huruf besar semua, karena Anda akan lebih sulit membacanya;
– Tulislah dengan paragraf pendek;
– Jika lebih dari satu halaman, jangan pecah satu pokok pikiran ke dua halaman yang berbeda;
– Jangan gunakan klip untuk menyatukannya;
– Nomori skrip bicara Anda. Saat akan berganti halaman, cukup geser halaman yang sudah ‘dibicarakan’ ke samping, untuk melihat halaman berikutnya. Cara ini akan meminimalisir kesan membaca Anda;
– Geser bersamaan dengan waktu ‘pause’ yang tepat. Saat itu, audience Anda sedang mencerna sehingga tidak terlalu memperhatikan gerakan Anda.

3. MENGGUNAKAN CATATAN

Inilah cara yang paling banyak dipilih oleh para pembicara. Inilah cara pertengahan antara membaca dan berbicara. Infleksi suara yang normal dan alamiah bisa tetap dicapai. Kontak mata tetap bisa efektif dan efisien. Bahasa tubuh tetap bisa didemonstrasikan dengan enak
terlihat.

Perhatikan hal ini:

– Jika catatan Anda letakkan di podium atau meja, Anda tidak bisa bergerak menjauhinya;
– Jika catatan Anda pegang di tangan, Anda tidak bisa berbahasa tubuh dengan leluasa.

Tips untuk menggunakan catatan:

– Catat informasi yang penting saja. Kutipan, statistik, daftar atau angka;
– Masukkan hanya ‘pemicu’ ide, paragraf atau kalimat;
– Jangan catat teks atau paragraf yang akan Anda ucapkan;
– Nomori lembar catatan Anda (ini PENTING!);
– Sesekali bergeraklah dengan normal, tidak usah takut menjauhi podium atau meja;
– Jaga agar tidak terlalu banyak membaca;
– Latihlah bicara Anda dengan memvisualisasikan sesi bicara.

4. MENGGUNAKAN ALAT BANTU VISUAL

Slide Anda bisa membantu. Judul dan sub judul di slide Anda bisa mengingatkan Anda tentang suatu ide atau pokok bahasan. Berlatihlah membuat alat bantu visual yang baik, menarik dan membantu, tapi tidak menggantikan Anda sebagai pembicara.

Keuntungan menggunakan alat bantu visual:

1. Anda tidak perlu khawatir tentang kelanjutan bicara Anda. Apa yang akan Anda bicarakan lebih lanjut sudah ada di sana. Apa yang Anda perlukan hanyalah kalimat transisi yang baik dan mulus;
2. Anda bisa bergerak dengan lebih leluasa. Pergerakan Anda akan memaksa audience mengikuti pembicaraan Anda;
3. Anda bisa tetap melakukan kontak mata dengan alamiah dan normal;
4. Anda tetap bisa bicara sesuai dengan track dan alur pemikiran yang telah Anda rencanakan;

Catatan: Selalulah memperkenalkan alat bantu visual Anda sebelum mulai membahas isinya!

Tentang Drs. Kasdi Haryanta

Laki-laki ini lahir di Bantul, Yogyakarta, 6 April 1962. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di daerah tanah kelahirannya itu. Pendidikan tinggi digelutinya di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Drs. Kasdi Haryanta mulai mengajar di SMA Xaverius 1 Palembang sejak 1988. Beliau pernah mengajar di SMA Xaverius 1 Filial, SMA Xaveriuus 4, SMA Kusuma Bangsa (2000-2002). mengajar di STT MUsi untuk mata kuliah Bahasa Indonesia (1996-2007) Menggeluti kehidupan keluarga dilakukannnya bersama wanita Kristina Tri Yulianti, guru Matematika SMA Xaverius 3 Palembang. Keluarganya dikaruniai dua anak: 1) Dyah Pramadita Harkrisnani; 2) Daru Yogiswara Harkristanta. "Pertanggungjawabkanlah kepercayaan Tuhan tatkala memberi kita karunia dan rahmat kepada melalui pikiran, perkataan, dan tindakan/perbuatan dalam kehidupan sehari-hari tatkala kita memberikan sikap kasih kepada sesama," demikian ujarnya mengenai implementasi prinsip hidup dan kehidupan.(@doet)
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s